Mataku tertuju pada lab bahasa, segera ingin kubuka pintu itu. Begitu pintu kantor Lab Bahasa Kubuka, aku merasakan hawa sejuk yang tentunya berasal dari alat pendingin ruangan. Terdengar pula suara suara bising dari alat yang sama. Dadaku terasa sesak ketika aku mulai mencium bau asap tembakau yang menyambutku. Ruangan ini terasa luas dipandang dengan ukuran enam kali sebelas meter persegi. Lalu pandanganku tertuju pada sebelah kanan ruangan yang telah berubah fungsi menjadi studio rekaman dengan ukuran empat meter kali empat meter persegi. Nampaknya Ruangan itu juga sudah dirubah menjadi dinding yang kedap suara setinggi dua setengah meter. Aku merasakan ruangan kantor ini sangat berbeda dengan ingatanku dulu, ruangan ini menjadi lebih sempit. Pandanganku juga jadi kurang sedap ketika melihat ruangan yang tidak diatur ini. Berbagai macam barang nampak berserakan dan ditaruh seenaknya, dan bahkan aku berpikir bahwa ini lebih rapi gudang dirumahku. Berbagai pertanyaan berkecamuk dipikiranku mengapa kantor Lab Bahasa ini menjadi seperti ini.
Di bagian depan ruangan terdapat beberapa lampu neon mode kuno yang membuat ruangan terasa sedikit sesak. Di ruangan yang tinggi kurang lebih sekitar empat meter, di antara dua pasang neon lampu ada sebuah exhaust fan, kipas penghisap, yang maksud tentu mengisap dan membuang bau yang kurang sedap.
Ketika Anda kuarahkan pandanganku ke belakang, meja kerja terlihat seperti tubuh, dan mahkluk hidup di dalam ruangan yang penuh sesak dengan barang-barang elektronik ini. Lelaki berkaca mata tampak terpukau dengan bacaananya, hampir tenggelam di antara tumpukan buku dan peta yang ada. Begitu mataku menangkap sebatang pipa coklat tua di mulutnya, segera aku asal bau yang membuat sesak di dada. Exhaust fan itu tidak bisa menyedot bau asap tembakau yang berasal dari pipa.
Terlihat ada dua lemari besi berwarna abu abu berdampingan menempel di dinding sebelah kiri. Disebelahnya ada sebuah kulkas satu pintu model satu pintu yang terlihat sudah tua. Dulu, warna kulkas itu putih, namun sekarang sudah terdistorsi menjadi warna coklat. Di gagang kulkas, terpampang sehelai kertas bertulliskan "Teh Botol Rp 200 saja". Disamping kulkas, berdiri tinggi rak kayu yang merapat ke dinding. Fungsinya, hanyalah menambah penuh ruangan dan hanya terdapat map merah jambu dan kuning serta bulu ayam. Di sudut ruangan, ada sebuah monitor televisi yang berada di atas sebuah meja beroda dan tersimpan sebuah radio pada rak di bawah meja tersebut.
Jendela jendela besar di dinding yang berseberangan dengan pintu masuk ditutup tirai hijau. lelaki berpipa duduk di bawah salah satu jendela. terlihat diatas meja ada tas kulit kemerahan, disamping nya ada asbak, gelas air putih, setumpuk map dan kertas. disamping kanan ada meja dan di kiri ada meja rendah tempat mesin tik dan rak surat yang menempel di dinding. terdapat dua buah filing kabinet.
Layar itu tegak rapat dengan bupet kayu yang panjang. Ujungnya yang disebelah sana hampir menyentuh dinding yang berseberangan dengan pintu sedangkan ujung sebelah sini menyisakan tempat untuk lewat saja. Di atas bupet kayu yang merupakan pembatas sebelah kanan ruangan terlihat beberapa cangkir tertelungkup di atas segulungan kertas tisu, sebuah toples tempat gula, dan sebuah termos
Pada bagian belakang bupet panjang, beberapa rak berdiri menempel pada dinding studio yang kedap udara, beberapa speaker, dan tape recorder terlihat berserakan ditemani barang elektronik lainnya. Beberapa buah benda aneh seperti cerbong bergelantungan di atas, berasal dari sebuah alat pendingin ruangan mengarah langsung ke atas studio mengalirkan udara dingin untuk mecegah orang-orang yang sedang rekaman kepanasan.
Sisi sebelah kanan ruangan terbentuk sebuah gang merupakan sisa tempat ruangan itu. Tepat di depan studio pada dinding kiri gang itu, tertempel kertas karton warna-warni yang berisi jadwal penggunaan ruang laboratorium bahasa. Beberapa meja dan kursi berada di bawah jadwal, mesin tik dan beberapa alat elektronik lainnya juga tertumpuk disana. Di dinding ruangan besar sebelah kanan ini, sebuah whiteboard, dua lemari kaca, dan tiga buah lemari besi berbaris rapi. Dan di sebelah kiri, di ujung gang itulah pintu masuk studio berada.
Aroma asap tembakau terasa menyesakkan. Ku arahkan pandangan ku ke ruangan itu. Kami saling menatap. Kuperhatikan kepala laboratorium itu, dengan rambut berantakan, kacamata tebal, bibir yang mengeluarkan asap tembakau. Aku serba salah. Aku bertanya, sejak kapan dia berhenti memperhatikan ku? Aku langsung mundur cepat, menutup pintu dan segera pergi dari tempat itu, terlepas dari sesak asap dan bau tembakau yg menjengkelkan, lega rasanya.
No comments:
Post a Comment